| Francis Wahono | Indonesia
Sekitar
sepuluh tahun yang lalu istilah globalisasi dimaknai sebagai pintu
masuk semua negara jika ingin meraih prestasi ekonomi. Pada
perkembangannya globalisasi telah mencipatakan siklus ketergantungan
baru dan kekjaman yang mutakhir. Dengan melibatkan berbagai instrumen
internasional, seperti GATT dan WTO globalisasi diam-diam menyuburkan
praktik imperialisme yang lebih sadis dan sitematis.
Nasib negara
seperti Indonesia, ibarat seorang yang dikebiri dan dikorbankan untuk
pesta segelintir orang yang mengaku duta dari kemajuan. Pembantaian
kejam dan canggih ini, salah satunya menimpa petani, yang menjadi
lapisan terbesar penduduk Indonesia. Penciptaan sistem pasar bebas
ternyata tidak menguntungkan, bahkan cenderung menumpas habis segala
potensi yang dipunyai kalangan petani.
Jurnal WACANA kali ini,
akan menyajikan rekaman gagasan yang melukiskan tentang nasib petani
yang dikorbankan untuk kepentingan kekuatan global. Edisi kali ini
menyajikan kombinasi anatara kausus dan kajian yang akan memotret secara
mendalam sekaligus menyeluruh mengenai praktik globalisai yang menindas
nasib petani dan kalangan marginal lain. Sebuah sajian yang patut
dibaca dan dikaji oelh semua kalangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar